Dikasih liburan 2 minggu, hari pertama masuk sekolah di semester II, kamu malah tidak berangkat? Masih kurang liburannya? Pindah sekolah? Atau jangan-jangan kena cantengan lagi? Reaksi dari suntikan yang bikin demam, dan akhirnya kamu tidak ikut baris saat upacara bendera. Hari senin tanggal 8 September 2014, itu alasan yang kamu pakai untuk menjawab pertanyaanku. Kini, senin itu terulang, senin-ku sunyi..sepi hanya gara-gara seonggok daging biasa kupanggil Tuan. Bedanya, sekarang aku tak punya nyali yang besar untuk bertanya lagi, ah bukan, bukan pertanyaan, aku memancingmu… dan kamu peka. Seperti cuplikan inbox dibawah ini:
Aku : Hari
ini capek banget disekolah :(
Tuan : Untung aku nggak berangkat :D
Aaaaah, aku
ingin tahu bagaimana keadaanmu sekarang, aku ingin tahu, selalu ingin tahu. Sepanjang
liburan yang membosankan aku menunggu hari ini segera tiba, Siap melakukan
rutinitas wajib, Bolak-balik ke toilet, Duduk di jembatan sendirian, Pura-pura
baca mading tiap kali berangkat pagi. Tujuannya? hanya ingin melihat wajahmu
saja. Bisa kau bayangkan betapa hatiku bekerja tidak maksimal. Menjadi racun. Menimpuki
kepalaku yang sudah berkhayal rindunya bakal terobati. Dasar detektif ilegal.
Makanya, Tuan.
Kurangi aktifitasmu disekolah, Jaga kesehatan, Jangan tinggalin sholat Jum’at.
Jangan lupa kalau sholat menghadap kiblat. Sekolah-ku tanpa kamu itu seperti daun
maple dikala musim kemarau. Berubah warna. Tidak lagi merah, tidak lagi meriah.
Senin kali
ini, aku tidak sedang marah-marah, aku hanya sunyi..sepi. dan bertanya-tanya,
apakah jatuh cinta membutuhkan mata-mata?
Senin kedua tanpa Tuan
Cirebon, 5 Januari 2015
Agni Hidayati RP
Tidak ada komentar:
Posting Komentar