catatan
usang pada 2 setengah tahun yang lalu~
6 April 2014 pukul 21:35
Catatan ini tak sengaja ku temukan
ketika sedang sibuk-sibuknya membereskan tumpukan buku pada rak buku pribadiku,
sepintas buku ini tak menyerupai buku harian, cover depannya sudah tak lagi
membungkus lembaran-lembaran tekstur kertas yang warnanya mulai menguning.
Yang jelas untuk membaca halaman
demi halamannya saja, tawaku berhasil pecah. bahasa tulisannya yang kurang
lugas, masih sulit di pahami hingga membuat perutku geli. Rupanya ini adalah
sepenggal catatan usang di masa lampau yg ditulis oleh perempuan pecicilan tak
tahu diri yang lancang mencintai teman sekelasnya sendiri. perempuan ini
benar-benar melucu! Ya.. perempuan itu..
Aku.
Aku terbangun dari tidurku,ku
lihat jam menunjukan pukul 06.00 WIB. tanda sebentar lagi aku akan bergegas
menuju sekolah, namun aku teringat akan hari yg akan ku lalui di sekolah nanti,
tentu saja hari saat-saat bersama Dia..
Sebagai perempuan yg cuek penampilan dan
hiperaktif dalam kegiatan ekstrakulikuler di sekolah aku tak pernah merasakan
bagaimana rasanya bisa saling mencintai, bukan hanya perasaanku yg bicara bukan
juga perasaan Dia saja yang meronta. Sepihak! benar2 ku harapkan seperti itu~
berawal dari kisahku, saat ini aku
baru duduk di bangku kelas 3 Sekolah Menengah Pertama. sejak masih kelas 1 SMP
aku memiliki tragedi cinta pertama yg sampai sekarang belum bisa terungkap.
Alangkah tak menyangka saat aku tahu bahwa kini Dia satu kelas denganku,
namanya Hose. perasan ini sempat hilang, namun setelah ku jalani segala
aktifitas bersamanya di lingkungan sekolah apalagi sampai menjadi teman curhat.
perasaan itu datang kembali, memang awalnya hanya aku,Tuhan dan diriku sendiri
yg mengetahui, tapi lambat laun rahasia kecil tersebut terlanjur menjadi
konsumsi penghuni sekolah. Ya.. menyebar dari mulut ke mulut, Tentu sudah bukan
menjadi sebuah rahasia lagi.
Hari ini seperti biasa
disekolah aku bertemu Hose. saat tengah berpapasan aku menyapanya ramah.
"Hai?"
Dia hanya membalasnya dengan senyuman
getir. kau terpaksa bukan? Hatiku berargumen.
"apa yg terjadi dengannya?
nampaknya ia terlihat merubah sikap" aku keheranan menyadari sikap Hose yg
tak seperti biasanya kepadaku.
"apa aku punya salah? tapi
salah apa?" fikiranku jadi dibanjiri pertanyaan, bahkan
tak fokus mencerna materi pelajaran yang disampaikan ibu guru. Sikapku canggung
ketika harus bergabung dengan gerombolan teman-teman yang lain dan juga Hose. saat aku sedang duduk sendiri di kursi halaman
depan kelas tiba-tiba salah satu temanku menghampiri, ia memberi kabar. katanya
Hose sudah mengetahui persoalan rasa suka ku padanya.
aku berfikir sejenak, apakah itu yg
menjadi alasan dia merubah sikapnya padaku? Seharusnya dia tak perlu menjauhiku
terang-terangan seperti ini ! wajarkah ikatan persahabatan yg renggang
dialasankan oleh perasaan pribadi?
sungguh, aku tak bisa berhenti
memikirkannya, waktu yg tersisa untuk beristirahat tengah malam tak ku
pergunakan sebaik-baiknya, aku sulit untuk tidur.
Keesokan harinya aku menganggap semua
baik-baik saja, namun tidak berlaku untuk Hose, sikapnya terlalu dingin,
benar-benar menganggapku orang lain. setiap berbicara denganku tak segan-segan
ia memakai ucapan yg kasar, seolah berproses membenciku.
Ada suatu peristiwa yang bisa ku
jadikan contoh, saat aku,dia dan teman-teman hendak sholat di mushola kebetulan
air keran yg digunakan untuk berwudhu tidak menyala.
"Air kerannya gak nyala nih,
mati lampu kayaknya. kita mau berwudhu dimana?" karena tak ada yg menjawab
pertanyaan Hose, aku pun memberanikan diri menjawabnya.
"berwudhu di sumur aja! tadi
aku juga disumur kok" wajahku berseri-seri.
"aku tidak bertanya padamu!
kenapa sih kamu selalu menyambung setiap pembicaraanku?" Hose malah menjawab
dengan nada tinggi.
aku langsung terdiam, tak berani
melontarkan sepatah kata. entah kenapa rasanya sangat menyayat hati.
Malamnya aku di rundung kegundahan,
ku remas-remas ponsel yg sedari tadi tergenggam di kepalan tangan, nama kontak
Hose tertampang jelas di layar, gemas. tanpa berpikir panjang jemariku sudah
mengetik kata demi kata, Yes.. pesan singkat tersebut telah terkirim!
ponsel mungil yg ku simpan di atas
meja belajar masih tak bereaksi apapun, padahal dalam hitungan menit pukul 10
akan terlewat.
aku menunggu sambil berbaring di
atas kasur. akhirnya penantian panjangku tengah membuahkan hasil. 1 pesan masuk
datang darinya!
Hose : benarkah kau
menyukaiku? telingaku merasa risih mendengar gosip2 itu.
Aku : kau tidak keberatan bukan?
pernyataan itu memang benar, tapi kau jangan khawatir secepatnya aku akan
membuang jauh-jauh perasaan gila ini, bisa mengenal namamu saja hatiku sudah
melambung ke udara :) persahabatan kita akan tetap utuh. Maafkan.
Hose : kau yakin?
Aku : sangat yakin :)
maukah kau bersikap seperti dulu? menerimaku sebagai teman sejatimu kembali?
aku sangat berharap itu.
Hose : terserah kau saja :)
Aku : terima kasih, kau
memang paling baik :)
Hose : kau sahabat ku yang
jauh lebih baik :)
Catatan itu berakhir sampai di percakapan
pesan singkat yang begitu memuakan :D aku tak menemukan kelanjutannya lagi di
lembaran berikutnya. kisah menyedihkan yg teringkas, moment 2 setengah tahun yg
lalu bukanlah moment yg sepenuhnya dapat terkenang jelas di ingatan . beruntung
aku masih bisa membacanya kembali :'D
~setiap persahabatan diantara dua
gender yg berbeda memang tak selamanya bisa terjalin sempurna~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar