Pertemuan
Saya dulunya tidak akrab dengan pemuda itu, saya cuma tau kalau
dia adalah kaka kelas yang lebih tua satu tahun dari saya, pemuda yang bisa
dibilang begitu popular di kalangan social media, yang seringkali bisa bikin
beranda facebook saya mirip sarang laba-laba karena status-statusnya.
Entah darimana awalnya saya bisa hafal nada suaranya, entah
darimana awalnya saya bisa mengingat garis wajahnya, semuanya serba entah.
Sahabat-sahabat saya yang baik hatinya, keyakinan saya ini sangat
kuat pada teori cinta pertama, tapi bukan ini yang akan saya bahas, karena
pemuda itu bukan cinta pertama saya, justru pemuda itu yang membuat saya hilang
ingatan soal teori cinta pertama saya ketika masih duduk di bangku kelas 1
sekolah menengah pertama.
Teman sebangku saya waktu kelas 2 SMA namanya dyas, tapi bukan
si dyas yang akan saya bahas, bukan juga dyas yang jadi cinta pertama saya,
justru si dyas itu yang membuat saya percaya kalau cinta pertama bisa berlaku
juga menjadi cinta terakhir. Loh kenapa begitu? Soalnya dyas punya tragedi
cinta pertama yang mirip dengan slogannya SMAN 1 Babakan “Luar biasa!” gitu. Disebut
luar biasa karena si dyas itu sudah mulai main cinta-cintaan sejak masih
mengenakan seragam putih dengan rok merahnya yang kadang suka kedodoran, eh tapi
engga ding.. dyas kan badannya subur plus makmur jeh.
Tragedi cinta pertamanya dyas dari masih sekolah dasar
ternyata berlanjut sampai ke jenjang sekolah menengah atas, Dyas pun hidup bahagia
dengan cinta pertamanya. Dan bagi saya itu hal yang tidak lumrah, sungguh.
Demikian cuplikan kisah inspiratif yang menjadi pedoman saya
dalam dunia percintaan. Jangan dilanjutin, Saya takutnya nanti nyaingin rating
sinetron inspiratif yang di adaptasi dari novelnya mbak Asma Nadia.
Suatu hari saya mengenal sebuah nama yang terdiri dari 4 huruf,
entah hari apa, saya lupa, Jangan rayu saya untuk mengingatnya, Langit-langit
fikiran saya sudah penuh oleh senyuman pemuda itu. Saya bingung harus menyebut
itu sebagai perkenalan atau apa? Dibilang perkenalan tapi saya sudah kenal dia
lewat jejaring social facebook, meski dalam bentuk komentar atau sebuah like
yang muncul bejibun di pemberitahuan.
Setelah rutin menjalankan puasa senin kamis akhirnya saya
mendapat hidayah dari Allah SWT untuk menyebut itu sebagai sebuah pertemuan,
pertemuan yang sudah di dahului dengan perkenalan, perkenalan yang berujung
pertemuan.
Bagi saya pertemuan kita waktu itu benar-benar “Ih !”, biar
saya ceritakan :
“Pagi itu saya datang ke sekolah agak pagian, saya melangkah
santai melewati pintu gerbang, pemuda itu berjalan di belakang saya. Saya
memasang tampang malu-malu karena waktu itu saya baru resmi jadi siswi SMA,
pemuda itu tetap menguntit dibelakang saya, tapi tiba-tiba saya merasa dia
memanggil saya berkali-kali, takut dibilang ngga sopan sama kaka kelas saya pun
menoleh ke arahnya, terus dia bilang gini “itu resletingnya kebuka” saya kaget,
tangan saya langsung meraba resleting rok abu-abu saya. “bukan yang itu tapi
resleting tas” pemuda itu cengengesan. Ekspersi wajah saya waktu itu ngga beda jauh sama permen karet :D”
Saya tidak berharap si pemilik nama yang terdiri dari 4 huruf
itu mengingat pertemuan awalnya bersama saya, Hati kecil saya berkata bahwa dia
pasti sudah lupa segalanya bahkan sampai lupa namanya sendiri. saya pribadi tidak
berniat untuk mengingat secara detail pertemuan itu. Hanya sekedar kebetulan, kebetulan
saya sudah mulai menjatuhkan hati saya padanya, kebetulan dia membantu saya
lupa tentang teori cinta pertama lewat rengkuhan perhatiannya, kebetulan
perasaan saya datangnya terlambat.
~KKSK~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar