Kamis, 10 Juli 2014

Pertemuan



Pertemuan


Saya dulunya tidak akrab dengan pemuda itu, saya cuma tau kalau dia adalah kaka kelas yang lebih tua satu tahun dari saya, pemuda yang bisa dibilang begitu popular di kalangan social media, yang seringkali bisa bikin beranda facebook saya mirip sarang laba-laba karena status-statusnya.

Entah darimana awalnya saya bisa hafal nada suaranya, entah darimana awalnya saya bisa mengingat garis wajahnya, semuanya serba entah. 

Sahabat-sahabat saya yang baik hatinya, keyakinan saya ini sangat kuat pada teori cinta pertama, tapi bukan ini yang akan saya bahas, karena pemuda itu bukan cinta pertama saya, justru pemuda itu yang membuat saya hilang ingatan soal teori cinta pertama saya ketika masih duduk di bangku kelas 1 sekolah menengah pertama. 

Teman sebangku saya waktu kelas 2 SMA namanya dyas, tapi bukan si dyas yang akan saya bahas, bukan juga dyas yang jadi cinta pertama saya, justru si dyas itu yang membuat saya percaya kalau cinta pertama bisa berlaku juga menjadi cinta terakhir. Loh kenapa begitu? Soalnya dyas punya tragedi cinta pertama yang mirip dengan slogannya SMAN 1 Babakan “Luar biasa!” gitu. Disebut luar biasa karena si dyas itu sudah mulai main cinta-cintaan sejak masih mengenakan seragam putih dengan rok merahnya yang kadang suka kedodoran, eh tapi engga ding.. dyas kan badannya subur plus makmur jeh. 

Tragedi cinta pertamanya dyas dari masih sekolah dasar ternyata berlanjut sampai ke jenjang sekolah menengah atas, Dyas pun hidup bahagia dengan cinta pertamanya. Dan bagi saya itu hal yang tidak lumrah, sungguh. 

Demikian cuplikan kisah inspiratif yang menjadi pedoman saya dalam dunia percintaan. Jangan dilanjutin, Saya takutnya nanti nyaingin rating sinetron inspiratif yang di adaptasi dari novelnya mbak Asma Nadia. 

Suatu hari saya mengenal sebuah nama yang terdiri dari 4 huruf, entah hari apa, saya lupa, Jangan rayu saya untuk mengingatnya, Langit-langit fikiran saya sudah penuh oleh senyuman pemuda itu. Saya bingung harus menyebut itu sebagai perkenalan atau apa? Dibilang perkenalan tapi saya sudah kenal dia lewat jejaring social facebook, meski dalam bentuk komentar atau sebuah like yang muncul bejibun di pemberitahuan. 

Setelah rutin menjalankan puasa senin kamis akhirnya saya mendapat hidayah dari Allah SWT untuk menyebut itu sebagai sebuah pertemuan, pertemuan yang sudah di dahului dengan perkenalan, perkenalan yang berujung pertemuan.

Bagi saya pertemuan kita waktu itu benar-benar “Ih !”, biar saya ceritakan :


“Pagi itu saya datang ke sekolah agak pagian, saya melangkah santai melewati pintu gerbang, pemuda itu berjalan di belakang saya. Saya memasang tampang malu-malu karena waktu itu saya baru resmi jadi siswi SMA, pemuda itu tetap menguntit dibelakang saya, tapi tiba-tiba saya merasa dia memanggil saya berkali-kali, takut dibilang ngga sopan sama kaka kelas saya pun menoleh ke arahnya, terus dia bilang gini “itu resletingnya kebuka” saya kaget, tangan saya langsung meraba resleting rok abu-abu saya. “bukan yang itu tapi resleting tas” pemuda itu cengengesan. Ekspersi wajah saya waktu itu ngga beda jauh sama permen karet :D”
 
Saya tidak berharap si pemilik nama yang terdiri dari 4 huruf itu mengingat pertemuan awalnya bersama saya, Hati kecil saya berkata bahwa dia pasti sudah lupa segalanya bahkan sampai lupa namanya sendiri. saya pribadi tidak berniat untuk mengingat secara detail pertemuan itu. Hanya sekedar kebetulan, kebetulan saya sudah mulai menjatuhkan hati saya padanya, kebetulan dia membantu saya lupa tentang teori cinta pertama lewat rengkuhan perhatiannya, kebetulan perasaan saya datangnya terlambat.


                                            ~KKSK~




Tidak ada komentar:

Posting Komentar