Apa kabar,
Cinta Pertama? Masih hidup? Ditelan pauskah? Tergoda bibi-bibi kantin? Atau kejebur sumur sadako?
Sudah hampir 6 tahun lamanya. Aku ingin kita cepat lulus
sekolah; berpisah. Aku ingin mengingat dirimu sebagai lakon 'sahabat' saja, bukan sebagai sosok cinta pertama yang ku temui di awal pendaftaran
SMP, juga waktu senggang latihan karate di Gedung Olahraga.
Rekaman yang
sungguh indah. Ketika kau mengacak-acak lembut rambutku karena kesal,
mengataiku pelit gara-gara tak ku downloadkan sebuah lagu, memujiku setiap
rambutku baru di potong. Duduk, berdiri, berjalan, berbicara, tertawa bersama
denganku.
Ketika lulus
SMP, aku berniat pergi. Tapi teka-teki Tuhan mengurutkan abjad kita dalam ruang
lingkup yang sama (Lagi). Entah apa alasannya, aku tak bahagia. Ada jarak yang
berkembang biak, ada lubang yang tak tiasa tertutup. Secara tiba-tiba, seiring
kita tak benar-benar ditempatkan dalam ruang lingkup yang sama.
Aku
ingat, lagu yang batal kunyanyikan diatas panggung ketika acara
Perpisahan SMP. Lagu yang ketika aku mengikuti seleski pentas seni mampu
menghadirkan kamu (Baca: Kamu menemaniku). Lagu 'Demi Cinta' dari
Kerispatih, hingga sekarang, Setiap ada orang yang memintaku untuk
bernyanyi. Aku pasti memilih lagu itu. Lagu yang pada hari itu belum
sampai ditelingamu.
Aku merasa
lebih berguna bila bersama denganmu, kekanak-kanakanmu menantangku pada banyak
hal, dan aku menikmatinya. Bahkan, tak ayal jiwaku terhempas di tahun
2011-2012, Lampau. Disebuah sekolah di ruang kelas penuh derap sepatu 40 orang.
Dua diantaranya adalah aku dan kamu, terperanjat di beranda.
Tetapi…
Enggan ku
tangkap lagi sayap ksatriamu, Bukan bosanku, Bukan jenuhku. Ternyata sungguh
melelahkan. Mengartikan sensasi gempa bumi kepada pemuda lain selain dirimu. Di setiap fatal
hatiku, momentum bersama dirimulah yang bereksistensi sepuluh juta persen. Aku
ingin bulan di tahun ini di percepat 2
kali lipat. Ingin ku pecah belah saja diorama kita, Bila di dalamnya bersemayam
cinta dan fantasi belaka.
Cobalah kau
perhatikan jam dinding analog yang terpajang. Kau akan melihat jarum detik,
jarum menit dan jarum jam. Hal pertama yang tertangkap fokus oleh matamu pasti
hanya jarum jam serta jarum menit saja, keduanya memang memberimu jawaban.
Sedangkan Lintasan jarum detik yang konstan tak pernah kau perhatikan tajam,
Sekelebat. Jarum detik berukuran mini,
jarum detik selalu buru-buru, jarum detik selalu berisik. Bagimu, jarum detik
itu tak ada bedanya denganku.
Bumi berotasi
wajar, roh ini menjajal kurang ajar. Senyawa bernama rindu menghasut jiwaku,
menawarkan kisah api andromeda yang baru.
Tetapi…
Rasaku terlanjur
bunuh diri. sekarang kau bahkan tak pernah lagi menyentuhku, tapi mengapa aku
merasa sedang dicengkeram erat oleh tanganmu? Lepas, aku ingin bebas, ingin mirip kapas,
terhempas...
Buntu, Mutlak. Tak tahu lagi
anganku, berapa tahun lagi akan menunggu. Mungkin sampai ada manusia baru yang
benar-benar bisa menggantikan. Aku hanya masih merasa belum bangun dari mimpi, dan masih tak percaya bahwa aku pernah duduk semeja denganmu, pernah menerima pesan singkat dari nomormu, dipanggil namanya olehmu.
Ah, tanggal kelahiranmu bagai pesaing tanggal kemerdekaan negara Indonesia, perlu perayaan, perlu di bikin catatan, wajib dikenang.
Barangkali, coretan ini sebatas perayaan kecil-kecilan. Aku tak akan memaksamu menengok kebelakang, Karena kini, biar ku antar engkau ke pintu
gerbang. Lalu sang waktu memakanmu, sesuai pemuas inginku.
Untuk memperingati hari ulang tahunmu
Dari : Teman Dekatmu. Waktu dulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar