Sabtu, 25 April 2015

Apa kabar, Cinta Pertama?




Apa kabar, Cinta Pertama? Masih hidup? Ditelan pauskah? Tergoda bibi-bibi kantin? Atau kejebur sumur sadako? 
Sudah hampir 6 tahun lamanya. Aku ingin kita cepat lulus sekolah; berpisah. Aku ingin mengingat dirimu sebagai lakon 'sahabat' saja, bukan sebagai sosok cinta pertama yang ku temui di awal pendaftaran SMP, juga waktu senggang latihan karate di Gedung Olahraga.

Rekaman yang sungguh indah. Ketika kau mengacak-acak lembut rambutku karena kesal, mengataiku pelit gara-gara tak ku downloadkan sebuah lagu, memujiku setiap rambutku baru di potong. Duduk, berdiri, berjalan, berbicara, tertawa bersama denganku. 

Ketika lulus SMP, aku berniat pergi. Tapi teka-teki Tuhan mengurutkan abjad kita dalam ruang lingkup yang sama (Lagi). Entah apa alasannya, aku tak bahagia. Ada jarak yang berkembang biak, ada lubang yang tak tiasa tertutup. Secara tiba-tiba, seiring kita tak benar-benar ditempatkan dalam ruang lingkup yang sama.


Aku ingat, lagu yang batal kunyanyikan diatas panggung ketika acara Perpisahan SMP. Lagu yang ketika aku mengikuti seleski pentas seni mampu menghadirkan kamu (Baca: Kamu menemaniku). Lagu 'Demi Cinta' dari Kerispatih, hingga sekarang, Setiap ada orang yang memintaku untuk bernyanyi. Aku pasti memilih lagu itu. Lagu yang pada hari itu belum sampai ditelingamu. 

Aku merasa lebih berguna bila bersama denganmu, kekanak-kanakanmu menantangku pada banyak hal, dan aku menikmatinya. Bahkan, tak ayal jiwaku terhempas di tahun 2011-2012, Lampau. Disebuah sekolah di ruang kelas penuh derap sepatu 40 orang. Dua diantaranya adalah aku dan kamu, terperanjat di beranda. 

Tetapi…

Enggan ku tangkap lagi sayap ksatriamu, Bukan bosanku, Bukan jenuhku. Ternyata sungguh melelahkan. Mengartikan sensasi gempa bumi kepada pemuda lain selain dirimu. Di setiap fatal hatiku, momentum bersama dirimulah yang bereksistensi sepuluh juta persen. Aku ingin bulan di tahun ini di percepat  2 kali lipat. Ingin ku pecah belah saja diorama kita, Bila di dalamnya bersemayam cinta dan fantasi belaka.

Cobalah kau perhatikan jam dinding analog yang terpajang. Kau akan melihat jarum detik, jarum menit dan jarum jam. Hal pertama yang tertangkap fokus oleh matamu pasti hanya jarum jam serta jarum menit saja, keduanya memang memberimu jawaban. Sedangkan Lintasan jarum detik yang konstan tak pernah kau perhatikan tajam, Sekelebat.  Jarum detik berukuran mini, jarum detik selalu buru-buru, jarum detik selalu berisik. Bagimu, jarum detik itu tak ada bedanya denganku.

Bumi berotasi wajar, roh ini menjajal kurang ajar. Senyawa bernama rindu menghasut jiwaku, menawarkan kisah api andromeda yang baru.

Tetapi…

Rasaku terlanjur bunuh diri. sekarang kau bahkan tak pernah lagi menyentuhku, tapi mengapa aku merasa sedang dicengkeram erat oleh tanganmu? Lepas,  aku ingin bebas, ingin mirip kapas, terhempas...

Buntu, Mutlak. Tak tahu lagi anganku, berapa tahun lagi akan menunggu. Mungkin sampai ada manusia baru yang benar-benar bisa menggantikan. Aku hanya masih merasa belum bangun dari mimpi, dan masih tak percaya bahwa aku pernah duduk semeja denganmu, pernah menerima pesan singkat dari nomormu, dipanggil namanya olehmu. 

Ah, tanggal kelahiranmu bagai pesaing tanggal kemerdekaan negara Indonesia, perlu perayaan, perlu di bikin catatan, wajib dikenang.
Barangkali, coretan ini sebatas perayaan kecil-kecilan. Aku tak akan memaksamu menengok kebelakang, Karena kini, biar ku antar engkau ke pintu gerbang. Lalu sang waktu memakanmu, sesuai pemuas inginku.




Untuk memperingati hari ulang tahunmu
Dari : Teman Dekatmu. Waktu dulu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar