Pagi ini tak ada yang berbeda langit tetap luas, tanah tetap terinjak, angin tetap sibuk mencari arah, dan tetap ada pesan manis di ponsel ku "selamat pagi sayang", tapi sedikit berbeda di bagian akhir pesan itu "aku akan menunggumu pulang". Ya hari ini aku patah hati oleh waktu terutama jarak.
Selamat pagi LDR, icon itu akan ku sandang setiap pagi sampai fajar, lalu pagi kembali. Hal-hal manis ketika kulihat senyum gadis berponi itu akan digantikan bacaan pesan elektronik yang tak usah kubaca raut wajahnya. Ah kudet luh kan bisa send pict, picture tak berpola terhalang layar datar tak ber seni. Aku seorang seniman, penilaianku bukan hanya dari sisi artistic tapi juga otentiknya dan juga teksture. Apalagi bumi ini akan berganti nama menjadi Planet 360 atau bisa juga Planet B612, semua manusia akan menjadi cantik, menjadi tampan, dan menjadi penipu, ah sudahlah, pokoknya aku lebih menyukai hal-hal yang natural alami dan bisa dirasakan oleh keempat indera. Indera penglihatan aku ingin puas memandangi wajahnya yg asli cantik, ini tidak bohong dia memang cantik. Indera pendengaran aku ingin mendengar suara manjanya, indera penciuman aku ingin mencium wangi parfum strawbery nya yang aku tidak tahu merek nya apa, dan indera peraba aku ingin menyentuh dan mencubit hidungnya, manja.
Kenapa tidak indera pengecap? karna menjijikan bila harus kujelaskan.
Sebenarnya, tidak cukup indah kesan terakhirku saat disampingnya. Cukup sering kita berpendapat yang tak sependapat, apalagi kalau bukan tentang kepergianku. Sudut pandangku, penilaianku, pendapatku, semua egoku adalah boemerang bagi diriku sendiri, karena ketika ku jelaskan bahwa semuanya akan baik-baik saja aku tak mendapat balasan kata-kata darinya, dia menjatuhkan diri kepelukanku dia menangis dan meremas pundaku, aku terkejut seperti terhempas nyawaku, hanya kata-kata "kamu jangan pergi" yang terus dia ucapkan, aku diam membisu, tulang-tulang pipiku membeku, dan mulut terkunci oleh kata-kataku sebelumnya. Aku mengalah diam, bukan mengalah tapi aku kalah dan aku harus diam, dan terpaksa mendengar ketakutannya akan jauh dariku. Cukup lama aku diam dan tersiksa mendengar tangisannya akhirnya ada kesempatanku untuk bicara, namun apa yang harus kubicarakan di saat saat seperti ini aku berkelahi dengan diriku sendiri yang terus menyalahkan waktu dan pilihan yang menyudutkanku pada saat saat seperti ini.
Ada kata-kata yang tak tersaring sepertinya, karna begitu saja keluar dari mulutku. "Tetaplah disini, Jadilah alasan kenapa aku harus pulang". syukurlah dia berhenti merengek, namun setelah beberapa detik dia berhenti menangis malah dia lebih erat lagi memeluk ku. Aku jadi lebih hancur, robek hatiku karna aku tau dia tidak akan pernah rela aku tinggalkan.
LDR, bukan hal yang mudah untuk dipahami, karna LDR bukan rumus. LDR hanya perlu lebih, lebih dalam mencintai, lebih dalam menyayangi, dan lebih percaya. Karena LDR hanya terpisah raga, bukan hati.
"Jadilah alasan kenapa aku harus pulang, Sandra"
Jakarta, 16 Mei 2015
Di Bilik Berkaca, Ruang Kerjaku

Tidak ada komentar:
Posting Komentar