Barangkali,
gesturmu ialah luka yang paling merdu. Maka sore nanti, biarkanku acuh dalam
pertemuan. Biarkanku sumbang dipelataran.
Dunia hanyalah cerita. Dan inilah ceritaku, yang tak ingin kau sampai mendengarnya. Sungguh kau pasti
akan memuncak, mengataiku bajingan atau bahkan meludahi wajahku (oke ini berlebihan). Alasanku
bercerita tentu saja karena dirimu. Kaulah tokoh yang kerap kubicarakan.
Khususnya kepada Tuhan.
Kau tahu? Aku tak tahu
mengapa untuk mencintaimu batinku harus terlibat duka. Apakah jalanku mencintaimu
sepayah itu? Atau mungkin, itu ternyata tujuan terselubung mengapa aku harus
mencintaimu. Aku tak paham, karena aku
harus mencintaimu mengalir begitu saja. Tanpa tahu jalan lain. Sampai ketika
ruh dalam tubuhku menempatkan hatiku dalam ruang gelap. Bibirku membisu. Dan
melalui gesturmu, kau membuat kegelapanku jauh menjadi lebih pekat. Sepertinya
aku semakin mencintaimu. Atau sepertinya aku semakin tak mencintaimu. Sekonyong-konyong,
pasokan sinar dari matamu meredup. Aku mencari hampir lupa diri. Sehingga
tanganku yang dulu dekat tak mampu lagi mendekap dadamu. Sehingga malamku yang
panjang tak mampu lagi merasakan pejammu.
Hidup mempunyai dua
sisi. Mungkin bisa tiga, empat, bahkan lima sisi. Namun, kau harus tahu. Untuk
mencintaimu aku hanya memerlukan satu sisi saja. Yaitu sisi gelap. Benar. Aku
menjadikannya persembunyian besar. Di balik kegelapan aku harus mencintaimu
semauku. Sedangkan kau tak akan mampu melihat apapun. Segalanya adalah gelap.
Begitupun rasaku. Gelap bagimu. Selain itu, terdapat pula sisi-sisi lain.
Tentang kau yang membumi dan aku yang melangit. Tentang kau yang masih muda dan
aku yang beranjak dewasa; rentang usia. Tentang segala sesuatu yang bertolak
belakang yang kau sebut ‘perbedaan’.
Kurasa, kau ingin aku
berteriak sekencang-kencangnya. Dengan satu sisi yang ku pilih; kegelapan. Satu
sisi yang segala warnanya menguatkanku. Juga satu sisi alternatif untuk melihatmu
menari-nari dikepalaku. Namun jangan fikir, aku akan menurutimu. Aku tak akan
membiarkan ruang gelapku bergetar. Atau pecah menjadi cerah. Pilihan tak
sebercanda itu. Ya, prinsipku takkan goyah sekalipun aku dihadapkan oleh
inginmu. Hatiku takkan kemana-mana. Sebagaimana awalnya, aku harus mencintaimu.
Dibalik kegelapanku yang kini semakin ke dasar. Jatuh, sejauh tak tergapai.
Entah sengaja maupun kebetulan, sore itu kau bertemu dua sisimu; Aku dan perempuan
yang sekarang dalam pelukanmu.
Ah, sudahlah. Bercerita
dibagian ini mentalku tak akan mudah.
Apakah
kisah cintamu menakdirkan satu sisi?
Apakah
jalanku mencintaimu adalah sebuah keharusan?
Mengapa
tak bisa kau cintai dua orang?
Saat
ini, aku memintamu, bercandalah denganku.
Gua
persembunyian
Cirebon, 1 Agustus 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar