Sabtu, 01 Agustus 2015

Mungkin. Sebuah Racauan.




Barangkali, gesturmu ialah luka yang paling merdu. Maka sore nanti, biarkanku acuh dalam pertemuan. Biarkanku sumbang dipelataran.

Dunia hanyalah cerita. Dan inilah ceritaku, yang tak ingin kau sampai mendengarnya. Sungguh kau pasti akan memuncak, mengataiku bajingan atau bahkan meludahi wajahku (oke ini berlebihan). Alasanku bercerita tentu saja karena dirimu. Kaulah tokoh yang kerap kubicarakan. Khususnya kepada Tuhan.


Kau tahu? Aku tak tahu mengapa untuk mencintaimu batinku harus terlibat duka. Apakah jalanku mencintaimu sepayah itu? Atau mungkin, itu ternyata tujuan terselubung mengapa aku harus mencintaimu. Aku tak paham, karena aku harus mencintaimu mengalir begitu saja. Tanpa tahu jalan lain. Sampai ketika ruh dalam tubuhku menempatkan hatiku dalam ruang gelap. Bibirku membisu. Dan melalui gesturmu, kau membuat kegelapanku jauh menjadi lebih pekat. Sepertinya aku semakin mencintaimu. Atau sepertinya aku semakin tak mencintaimu. Sekonyong-konyong, pasokan sinar dari matamu meredup. Aku mencari hampir lupa diri. Sehingga tanganku yang dulu dekat tak mampu lagi mendekap dadamu. Sehingga malamku yang panjang tak mampu lagi merasakan pejammu.

Hidup mempunyai dua sisi. Mungkin bisa tiga, empat, bahkan lima sisi. Namun, kau harus tahu. Untuk mencintaimu aku hanya memerlukan satu sisi saja. Yaitu sisi gelap. Benar. Aku menjadikannya persembunyian besar. Di balik kegelapan aku harus mencintaimu semauku. Sedangkan kau tak akan mampu melihat apapun. Segalanya adalah gelap. Begitupun rasaku. Gelap bagimu. Selain itu, terdapat pula sisi-sisi lain. Tentang kau yang membumi dan aku yang melangit. Tentang kau yang masih muda dan aku yang beranjak dewasa; rentang usia. Tentang segala sesuatu yang bertolak belakang yang kau sebut ‘perbedaan’.

Kurasa, kau ingin aku berteriak sekencang-kencangnya. Dengan satu sisi yang ku pilih; kegelapan. Satu sisi yang segala warnanya menguatkanku. Juga satu sisi alternatif untuk melihatmu menari-nari dikepalaku. Namun jangan fikir, aku akan menurutimu. Aku tak akan membiarkan ruang gelapku bergetar. Atau pecah menjadi cerah. Pilihan tak sebercanda itu. Ya, prinsipku takkan goyah sekalipun aku dihadapkan oleh inginmu. Hatiku takkan kemana-mana. Sebagaimana awalnya, aku harus mencintaimu. Dibalik kegelapanku yang kini semakin ke dasar. Jatuh, sejauh tak tergapai. Entah sengaja maupun kebetulan, sore itu kau bertemu dua sisimu; Aku dan perempuan yang sekarang dalam pelukanmu.

Ah, sudahlah. Bercerita dibagian ini mentalku tak akan mudah.



Apakah kisah cintamu menakdirkan satu sisi?
Apakah jalanku mencintaimu adalah sebuah keharusan?
Mengapa tak bisa kau cintai dua orang?
Saat ini, aku memintamu, bercandalah denganku.



Gua persembunyian
 Cirebon, 1 Agustus 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar